Minggu, 25 Desember 2016

LEAK



LEAK


Berdasarkan arti katanya Leak berasal dari kata :
LE : artinya luih
YE : Hyang atau Tuhan Yang Maha Esa
KA : Bermakna kanda atau hurup kelima yang juga diartikan mata angin.

Jika digabungkan katanya maka mengandung makna pikiran yang baik menuju tuhan atau juga bisa diartikan rahmat tuhan. Kita bisa mencapai kesempurnaan lahir batin. Jadi Leak adalah ilmu yang baik walaupun dalam kenyataan prakteknya dilapangan kadang mengalami perubahan, dimana ilmu ini bisa bersifat buruk bahkan cenderung destruktif. Karena hal ini dipengaruhi oleh siapa yang mempelajarinya dan apa motifasi yang melatarbelakangi mereka mempelajarinya. 

Leak memiliki tiga tingkatan :
1.      Desti : Yang lumrah dikenal dengan ilmu pangiwa, yang biasanya digunakan untuk menyakiti orang.
2.      Teluh : Menyebabkan banyak orang terkejut akhirnya terjatuh sakit. Ilmu ini lebih hebat dari desti yang biasanya berbentuk seperti celuluk, atau rangda yang berbentuk pengiwa.
3.      Trangjana : Bila dipelajari akan mampu mengetahui sakit yang diderita oleh orang lain, akan mati ataupun sembuh. Trangjana juga bias disebut dengan leak sari atau leak nyari. Biasanya ilmu ini digunakan untuk metetulung tanpa pamrih.

Menyimak dari uraian diatas kalau kita telusuri lebih jauh ternyata leak merupakan bagian dari ajaran bhairawa, hal ini dapat kita lihat dalam pemaparan dari R. Goris dalam bukunya berjudul Sekta-Sekta di Bali.
 Disana dijelaskan bahwa Bhirawa adalah suatu sekta Durga dari “tangan Kiri” (Wama Cakta). Sebagai sebuah kelompok ia sudah lenyap sama sekali. Namun sebagai sebuah ajaran masih tetap hidup dan ada sampai sekarang, hal ini dapat kita lihat dalam du aspek yaitu :
1.      Dalam sebuah peristilahan umum telah dimasukkan dalam sebuah peristilahan teknis dari wamacakta atau tantric kiri.
2.      Pemujaan kuburan dan nenek sihir.

Mengenai istilah seperti misalnya, Candi, Durga, di dalam referensi sejarah hindu dijawa candi memiliki makna candika atau Durga. Terkait dengan hal tersebut menurut analisa kami maka ketika para raja di jawa dahulu telah wafat dan  dikubur selalu disebut dengan istilah dicandikan.

Mengenai pemujaan kuburan dan nenek sihir termasuk leyak leyak, hantu kuburan dan nenek sihir manusia dalam bentuk lain berkeliaran di tempat kuburan. Biasanya mereka menampilkan bentuk demonis atau menyeramkan.

Sumber :
1.      Bali Post, Terbit Senin 2 Mei 2005
2.      Sekta-sekta di bali, 1986,  R.Goris, Bhratara Karya Aksara Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar